May 17, 2011

Coretan Tembok

Posted by Fajar Fandi Atmaja | May 17, 2011 | Category: | 0 komentar

aku tak tahu mengapa gadis berdominasi pink itu,
tak sekali-kali bosan aku memandang.
ini bukan masalah titah ataupun doktrin,
meskipun ini semua sudah hampir diatur
sedemikian rapi untuk aku akan mengenalnya.

ini berawal dari bincang santai,
tak ada secangkir kopi dan roti.
obrolan berkisar pada sang jelita,
yang samasekali bukan menjadi awal tema

cerita ini berlanjut pada coretan ditemboktembok
yang berakun demi mencipta aji
merayu berkeset gombalgombal
memelas bermodal sebungkus tisu

July 17, 2010

Pandu Dewanata

Posted by Fajar Fandi Atmaja | July 17, 2010 | Category: | 0 komentar


Dalam cerita mahabarata kau adalah Bima, meski urutan lahirmu berbanding lurus dengan Yudistira. Sebagai tersulung, pertama kali keluar bersama darahdarah dari rahim perempuan suci, Dewi Kunti. Dewi yang punya sejuta tutur, namun tak banyak menyakiti hati. Katanya panutan tak berkesan menggurui, seteladan Kunti seharusnya benar-benar menjadi guru.

Di antah berantah Bima menjadi seorang ksatria bergaman gada, sejak masih kanak belum ada tandingannya. Hingga menjadi pandawa dari negri Hastinapura. Daerah hijau yang di kelilingi gunung, berdominasi hamparan sawah dan ladang.

Terkisah dari usia muda Bima sudah bermusuhan dengan Kurawa, antagonis yang licik, namun masih bertali keluarga antara mereka. Pada suatu hari suatu kurawa meracuni kudapan Bima, ia tercipta tak banyak berburuk sangka, maka memakannya adalah tak berlandas curiga. Hingga ia sekarat, hampir menemui ajal, tak sadarkan diri. Untung ada Antaboga, seorang raja yang melawan racun dengan racun, sampai akhirnya kematian Bima tertunda.


Bima mempunyai saudara Yudistira dan Arjuna, ketiganya menjadi pandawa.
Semua pandawa lahir dari satu orang bapak, yaitu Pandu. Seharusnya sosok Pandu yang aku ceritakan, seorang ayah yang menurunkan garis ksatria zaman mahabarata. Namun aku tak begitu tahu banyak tentang Pandu, bertemunya pun bisa dihitung menggunakan jari. Lalu apakah aku harus mengarang cerita untuk mensejajarkanya dengan kesatria, bagiku ia lebih dari sekedar itu, Pandu juga Brahmana dalam ceritaku. Raja sekaligus Pandita di sekitar Hastinapura.

Masih banyak lagi yang harus digubah dari Pandu, tak mungkin orang sedermanya dikutuk oleh seorang resi, Pandu dewanata hanya harus tertatih-tatih dengan aral sebelum menggapai mahkota Hastinapura. Aku tidak mau mengangkat derajat Pandu pada yang sempurna, serupa dewa. Kalau soal mengangkat derajat manusia, aku tak mau mendikte Brahman, sang penguasa jagad.

Dan aku terus terpojok dengan Sruti, yang berupa hati nurani untuk terus menceritakan Pandu. Ini bukan lagi sebuah smerti atau tradisi agar aku mengupas orang hanya dari satu sisi, yaitu bagian yang mulia. Aku setuju dengan smerti bila diartikan « yang teringat ». Ya, karena aku hanya mengingat yang baik, dan tidak memberi pewangi agar nama Pandu wangi jua.
Sesetia Pandu tak kan mungkin rela, bila Kunti kuceritakan dalam madu. Maka seorang Madri yang melahirkan bayi kembar Nakula dan Sadewa, dua tersisa dari pandawa lima tak akan kujadikan sebagai istri kedua Pandu.

Maka ceritanya, Pandu bersama Kunti, menjadi suami istri yang sah, tak dinyana bahwa Kunti adalah hadiah sayembara di Mathura yang dimenangkan oleh Pandu. Namun hal itu tak mengurangi sedikitpun rasa cintanya kepada dewi putri Kerajaan Kunti itu.

Keduanya membangun Hastinapura dengan tetestetes keringat. Raja Pandu Dewanta mempetak-petak lahan untuk menjadi sumber pangan bagi rakyat-rakyatnya. Semua keluh kesah ditampung tanpa membeda-bedakan kasta. Entah manusia itu berwarna Brahmana, Ksatria, Waisya ataupun Sudra. Ia menganggap sama derajat-derajat rakyat, yang membedakan hanya ketaatan kepada Brahman. Penguasa tertinggi yang kekal, tak ada yang mengawali maupun mengakhiri.

Suami-istri itu bahu membahu menyumbangsihkan peran untuk membangun peradaban, menghapus buta aksara, tulis menulis baca membaca sansekerta. Kemudian mengilhami kalam di Susastra suci. Dengan menerapkan Widhi yang percaya akan Tuhan Yang Maha Esa, juga Karmaphala Tattwa bahwa yang menjadi perlakuan-perlakuan hamba akan mendapat balasan.
Keturunan rakyat Hastinapura ditempa dalam serambi istana raja, agar kelak hidupnya tidak tersesat, diajari menghafal mantra-mantra sejak kecil, supaya mereka bisa banyak berkeluh kesah dengan bahasa Tuhan.

Sampai pada suatu masa Hastinapura kacau, banyak diterjang badai permasalahan, selain itu kerajaan-kerajaan di luar Hastinapura sedang menunggu mangsa yang tak berdaya, untuk dijadikan daerah kekuasaan. Sepertinya Hastinapura tak akan bertahan.

Penjajahan itu sudah hampir merangsek ke istana untuk mengambil alih pemerintahan. Dalam masa genting, Pandu Dewanta naik ke kahyangan untuk memohon bantuan Batara Guru, semua demi keselamatan keluarga serta rakyatnya. Sebagai syarat, Raja Hastinapura itu rela umurnya menjadi pendek dan masuk neraka.

Benar saja, Hastinapura keluar dari pergolakan dengan mempertahankan daerah kekuasaan. Rakyat beserta keluarga kerajaan bersorai menyambut kemenangan. Namun tak dinyana Pandu gugur dalam perang Pamoksa, ditangan Prabu Tremboko yang tak lain adalah muridnya sendiri.
Di akhir cerita aku sempat membaca: “Pandu akhirnya naik ke Surga, karena pada masa hidup ia sudah sampai pada derajat Moksa, yaitu keadaan di mana jiwa merasa tenang dan menikmati kebahagiaan sesungguhnya tanpa terikat oleh hawa nafsu maupun benda material. Sehingga jiwa tak lagi kecandu dunia”.

Di cerita lain, awalnya Pandu masuk neraka, akan tetapi berkat bantuan putranya Bima, Pandu mendapat tempat di surga.

July 16, 2010

Surat Untuk Ifa

Posted by Fajar Fandi Atmaja | July 16, 2010 | Category: | 1 komentar


Teruntuk Ifa yang senantiasa setia

Dalam kesendirian, ku teringat padamu. Masih hafal aku bagaimana lesung pipi saat kau tersenyum, dominasi bola mata nan indah waktu aku pandang parasmu. Ini bukan rindu apalagi cinta. Kalaupun rindu, akan kulukiskan lewat tetesan embun yang jatuh ketanah. Tiada terlihat,kasat namun terasa diantara partikel-partikel tanah.

Dan ini bukan cinta Ifa. Cinta itu sudah tidak tumbuh lagi dalam hatiku. Bak bom atom yang meluluh lantakan tanah Hiroshima dan Nagasaki, sampai tunas-tunas enggan muncul diatasnya. Aksi itu adalah balasan atas keberanian Jepang meledakkan bom di pelabuhan Pearl harbor, 4 tahun sebelumnya. Cintaku seperti tunas yang trauma tumbuh di tanah sengketa.



Kau melakukannya saat ku dalam kebimbangan, karena pesan SMSmu tak menjadi solusi permasalahan. Aku mengacuhkanmu dalam ketidakpastian. Membiarkanmu menangis dalam sepinya malam. Akhirnya kau mencari jalan aman, berlindung di balik cucu Adam yang lain. Kau mendapatkan cinta yang lain, tidak dengan sisa cintaku. Keputusanmu seakan memerintahkan Harry S Truman untuk membinasakan sisa cintaku, seperti bagaimana sang presiden adidaya itu membumi hanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Kita tak lagi menyatukan hati dan rasa. Kau sudah bahagia dengan pangeran Rama, yang siap membawamu terbang keliling dunia. Melakukan apa saja demi kau agar terus ria. Dalam renung malam, aku mulai menerima keadaan, tujuanku hanya untuk membahagiakan Ayah dan Ibu. Meski ayah tak pernah melarang untuk berpacaran, aku bebas, namun Ayah selalu menyuruh mencari ilmu dengan “tenanan”. Aku tak lagi memikirkanmu berlebihan. Dengan semangat berkobar-kobar aku ingin menjadi lebih ber-ilmu dan berharap melupakanmu.

Lama sudah kita tidak bersua Ifa, tiba-tiba nomermu kembali muncul dalam inboxku. “Maafkan aku Fan!! Aku telah banyak salah padamu”. Aku balas pesanmu “seharusnya aku yang minta maaf, banyak hal yang tak seharusnya kulakukan padamu”. Pesanmu tersirat, kembali menginginkan aku berada di sisimu. Meski aku tak yakin perjudianku benar, kau ingin kembali!

Dalam status Facebook, kau tuliskan akan selalu setia padaku. Abjad-abjad setiamu itu kau tuliskan saat sang Rama telah lelah membawamu terbang. Ia sudah tak mampu lagi membawamu terbang. Statusmu kembali jomblo. Dan aku telah mulai menikmati hidup tanpa iringan pesan singkatmu. Selain itu aku sudah dalam perjalanan jauh menuju hati dewi Shinta yang lain, menghapus kenanganmu.

Sangat sulit untuk melakukan itu. Tapi kau tak henti-hentinya berharap. Terus tabah untuk mendapatkan kembali cinta. Terus meminta maaf, meski kau tak bersalah. Hingga pada suatu malam ku beri kesempatan kau untuk menumpahkan rasa. Melalui Telpon kau jelaskan semua rentetan cerita. Perasaanmu dulu dan sekarang, keinginanmu sekarang dan yang akan datang. Menyoal kekecewaan, minta maaf dan kau ingin kembali sebagaimana kita saling mengucapkan sayang. Aku kembali mengingatkan “Aku ingin tenang untuk saat ini, masih ingin sendiri dan bergelut dengan mimpi, belajar di negeri harapan”.

Dalam perpisahan telpon kali ini, tak terdengar kata sayang dari mulutku seperti dulu. Sebelumnya, untuk mengucap salam perpisahan pun kita butuh sepuluh menit. Terlalu berharga untuk mengakhiri malam kebersamaan, seakan pembicaraan kita tak mau dihentikan oleh jarum jam dan kumandang adzan.

Pada akhirnya, suatu hari kau kembali memastikan hubungan kita, dengan mengirim SMS. “Apa kau masih suka padaku?, aku hanya ingin jawaban Ya atau Tidak”. Dengan pertanyaan menohok seperti itu, aku hanya mampu menjawab: “Sebagai seorang manusia aku akan mengatakan TIDAK, namun dalam dimensi Tuhan siapa yang tahu?”.

Karena jawaban “tidak” itu dariku, jangan lantas kau membenci Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja kita akan menyatu di pelaminan atau mungkin kita berlainan jalan dalam meneguk kebahagian. Banyak pelajaran yang aku dapatkan ketika kau mengisi hatiku. Tuhan akan mengatur semua. Teruslah semangat dalam mengarungi hidup, berjuang untuk mewujudkan cita, dan membahagiakan orang tua.

Yang pernah mencintaimu,
Fajar Fandi Atmaja.